Showing posts with label Dasar kelistrikan. Show all posts
Showing posts with label Dasar kelistrikan. Show all posts

 MOTOR LISTRIK DC (DIRECT CURRENT)


Pengertian motor listrik DC.

    Secara teori, Motor DC adalah Motor listrik yang membutuhkan suplai tegangan arus searah atau arus DC (Direct Current) pada kumparan medan untuk diubah menjadi energi mekanik. 

Gambar Fisik Motor DC

Pada motor dengan arus DC, di dalamnya biasanya terdapat kumparan yang berfungsi untuk menghasilkan putaran. Nah, jumlah putaran yang dihasilkan oleh motor tersebut disebut sebagai RPM (Revolutions Per Minute).

Untuk sebuah motor DC, biasanya putaran yang dihasilkan adalah gerakan dengan kecepatan sekitar 3000-8000 RPM. Dan biasanya juga memiliki tegangan operasional dengan kisaran sebesar 1,5 sampai dengan 3 volt.


Prinsip Kerja Motor DC

Pada prinsipnya motor listrik DC menggunakan fenomena elektromagnet untuk bergerak, ketika arus listrik diberikan ke kumparan, permukaan kumparan yang bersifat utara akan bergerak menghadap ke magnet yang berkutub selatan dan kumparan yang bersifat selatan akan bergerak menghadap ke utara magnet. Saat ini, karena kutub utara kumparan bertemu dengan kutub selatan magnet ataupun kutub selatan kumparan bertemu dengan kutub utara magnet maka akan terjadi saling tarik menarik yang menyebabkan pergerakan kumparan berhenti.



Untuk menggerakannya lagi, tepat pada saat kutub kumparan berhadapan dengan kutub magnet, arah arus pada kumparan dibalik. Dengan demikian, kutub utara kumparan akan berubah menjadi kutub selatan dan kutub selatannya akan berubah menjadi kutub utara. Pada saat perubahan kutub tersebut terjadi, kutub selatan kumparan akan berhadap dengan kutub selatan magnet dan kutub utara kumparan akan berhadapan dengan kutub utara magnet. 

Karena kutubnya sama, maka akan terjadi tolak menolak sehingga kumparan bergerak memutar hingga utara kumparan berhadapan dengan selatan magnet dan selatan kumparan berhadapan dengan utara magnet. Pada saat ini, arus yang mengalir ke kumparan dibalik lagi dan kumparan akan berputar lagi karena adanya perubahan kutub. Siklus ini akan berulang-ulang hingga arus listrik pada kumparan diputuskan.

Dalam memahami sebuah motor, penting untuk mengerti apa yang dimaksud dengan beban motor. Beban dalam hal ini mengacu kepada keluaran tenaga putar / torque sesuai dengan kecepatan yang diperlukan. Beban umumnya dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok :

§  Beban torque konstan  adalah beban dimana permintaan keluaran energinya bervariasi dengan kecepatan operasinya namun torquenya tidak bervariasi. Contoh beban dengan torque konstan adalah corveyors, rotary kilns, dan pompa displacement konstan.

§  Beban dengan variabel torque adalah beban dengan torque yang bervariasi dengan kecepatn operasi. Contoh beban dengan variabel torque adalah pompa sentrifugal dan fan (torque bervariasi sebagai kuadrat kecepatan).

Peralatan Energi Listrik : Motor Listrik.

§  Beban dengan energi konstan adalah beban dengan permintaan torque yang berubah dan berbanding terbalik dengan kecepatan. Contoh untuk beban dengan daya konstan adalah peralatan-peralatan mesin.


Prinsip Arah Putaran Motor

            Untuk menentukan arah putaran motor digunakan kaedah Flamming tangan kiri. Kutub-kutub magnet akan menghasilkan medan magnet dengan arah dari kutub utara ke kutub selatan. Jika medan magnet memotong sebuah kawat penghantar yang dialiri arus searah dengan empat jari, maka akan timbul gerak searah ibu jari. Gaya ini disebut gaya Lorentz, yang besarnya sama dengan F.

            Prinsip motor : aliran arus di dalam penghantar yang berada di dalam pengaruh medan magnet akan menghasilkan gerakan. Besarnya gaya pada penghantar akan bertambah besar jika arus yang melalui penghantar bertambah besar.

Contoh :

Sebuah motor DC mempunyai kerapatan medan magnet 0,8 T. Di bawah pengaruh medan magnet terdapat 400 kawat penghantar dengan arus 10A. Jika panjang penghantar seluruhnya 150 mm, tentukan gaya yang ada pada armature.

Jawab :

F = B.I..z = 0,8 (Vs/m2). 10A. 0,15 m.400

   = 480 (Vs.A/m)

   = 480 (Ws/m) = 480 N.

 



Transformator Distribusi

Konsep Dasar Transformator Distribusi


Transformator atau yang biasa disingkat trafo adalah komponen utama yang ada di dalam pendistribusian energi listrik pada jaringan tegangan rendah. Menurut WikipediaTrafo distribusi atau trafo servis adalah trafo yang menyediakan transformasi tegangan akhir dalam sistem distribusi tenaga listrik , menurunkan tegangan yang digunakan dalam jalur distribusi ke level yang digunakan oleh pelanggan. 


salah satu contoh gambar trafo distribusi
Dalam proses pendistribusian energi listrik fenomena ketidakseimbangan selalu menjadi isu yang sangat penting, sistemnya muncul ketika perbedaan prioritas pada pelanggan.

Daya yang disuplai ke dalam transformator tidak sama dengan daya keluaran. Beberapa daya input pada transformator hilang, ketika transformator memiliki komponen reaktif, dan ada juga pergeseran fasa antara tegangan input dan tegangan output yang mengakibatkan rugi-rugi

Pada transformator, hal tersebut terjadi karena ketidakserempakan waktu pemakaian beban listrik. Ketidakseimbangan fasa R,S,T inilah yang memicu timbulnya arus di penghantar netral, maka arus netral ini yang menyebabkan rugi-rugi pada transformator.

Tiap fasa transformator dapat dikatakan seimbang jika memenuhi dua syarat, yaitu keadaan dimana ketiga vektor/tegangan sama besar, atau ketiga vektor saling membentuk sudut 120˚. Lalu dapat dikatakan tidak seimbang yaitu bila satu atau dua syarat pada keadaan seimbang tadi tidak terpenuhi. Ada tiga kemungkinan ketika beban tidak seimbang, yaitu ketiga vektor tidak sama besar dan tidak membentuk sudut 120˚ satu dengan lainnya, ketiga vektor tidak sama besar tetapi membentuk sudut 120˚ satu dengan lainnya, ketiga vektor sama besar tetapi tidak membentuk sudut 120˚ satu dengan lainnya.


Vektor Diagram Arus Seimbang



Gambar di atas menunjukkan vektor diagram dalam keadaan seimbang, dapat dilihat dari ketiga vektor sama besar atau ketiga vektor saling membentuk sudut 120̊ , dan penjumlahan ketiga vektor arus (IR, IS, dan IT) adalah sama dengan nol sehingga arus netral (IN) tidak ada yang muncul.

Motor Listrik AC (Alternating Current)

Pengertian Motor listrik. 

Motor listrik jenis AC (Alternating Current) merupakan alat listrik yang berfungsi mengubah energi listrik AC yang masuk di sisi input motor menjadi energi mekanis yang berupa gerak. Energi mekanis yang dibangkitkan berupa energi putar pada poros rotor motor listrik. 

Bentuk fisik motor listrik secara umum.


Prinsip kerja motor listrik. 

Motor listrik menggunakan magnet untuk menciptakan gaya gerak mekanik. hukum fundamental dari semua magnet, yaitu: tarik menarik dan tolak menolak. Jadi jika Anda memiliki dua batang magnet  maka ujung utara dari satu magnet akan menarik ujung selatan yang lain. Di sisi lain, ujung utara magnet akan menolak satu ujung utara yang lain dan begitu juga sebaliknya ujung selatan akan menolak selatan lainnya. Hal ini lah yang menyebabkan gerak rotasi di dalam motor listrik

Macam - macam motor listrik berdasarkan kecepatan putaran Rotor. 

1. Motor Listrik Sinkron. 

Motor sinkron merupakan motor yg memiliki output kecepatan putaran motornya yg sinkron/sebanding dengan frekwensi listrik yg masuk ke statornya. karakteristik dari motor ini adalah putarannya konstan meskipun beban motor beruba-ubah dimana kecepatan motornya sesuai dengan persamaan matematis berikut :




2. Motor Listrik Asinkron.

Motor Asinkron lebih populer disebut dengan motor induksi karena arus di rotor yg menghasilkan torsi nerupakan hasil ggl induksi dari stator ke rotor. karakteristiknya kecepatan motor tergantung dari beban dari motor tersebut. 


Hukum Kirchhoff 2

Pengertian Hukum Kirchhoff 2


Hukum Kirchhoff 2 atau juga dikenal dengan sebutan hukum tegangan Kirchhoff atau Kirchhoff's Voltage Law (KVL)  merupakan hukum yang digunakan untuk menganalisis tegangan (beda potensial) komponen-komponen kelistrikan dan elektronika pada suatu rangkaian tertutup. 

Bunyi Hukum Kirchhoff 2. 

"Total tegangan (beda potensial) pada suatu rangkaian tertutup adalah nol".

Rangkaian Loop tertutup.

Dari gambar di atas, dapat dituliskan secara matematis :

Vab + Vbc + Vcd + Vda = 0

Pertanyaan dalam hukum Kirchhoff 2 sebagai penerapan dari hukum kekekalan energi dan dinyatakan dalam persamaan :
ΣΔ V = 0 

Gaya gerak listrik  ε dalam  sumber tegangan, menyebabkan penurunan tegangan, sehingga persamaan tegangan dapat ditulis sebagai berikut :

Σε   +  Σ IR = 0

Dengan : 
Σε    : Jumlah GGL sumber arus (V)
Σ IR  : Jumlah penurunan Tegangan (V)
I        : Arus listrik (A)
R      : hambatan ( Ω )

Terdapat perjanjian tanda untuk tegangan GGL (ε):
1. Jika arah kuat arus listrik searah dengan arah loop dan kuat arus listrik bertemu dengan kutub (+) potensial tegangan terlebih dulu, maka tanda tegangan GGL adalah (+)
ε (+) ➔ arah loop 1.png

2. Jika arah kuat arus listrik searah dengan arah loop dan kuat arus listrik bertemu dengan kutub (-) potensial tegangan terlebih dulu, maka tanda tegangan GGL adalah (-).
ε (-) ➔ arah loop 2.png

Terdapat perjanjian tanda untuk arah kuat arus listrik (I) pada penurunan potensial tegangan (I.R):
1. Jika arah kuat arus listrik searah dengan arah loop, maka tanda kuat arus listrik adalah (+).
I (+) ➔ arah loop 3.png

2. Jika arah kuat arus listrik berlawanan arah dengan arah loop, maka tanda kuat arus listrik adalah (-).
I(-) ➔ arah loop 4.png





Rangkaian campuran

Pengertian rangkaian campuran.

Secara umum secara karakteristik rangkaian listrik terdiri dari dua macam rangkaian, yaitu rangkaian seri dan paralel. Akan tetapi, didalam rangkaian listrik terdiri satu lagi macam rangkaian yaitu rangkaian listrik campuran.

Rangkaian listrik campuran merupakan rangkaian yang terdiri dari kombinasi antara rangkaian listrik seri dan paralel. 

Rangkaian listrik campuran biasanya berfungsi sebagai suatu rangkaian listrik yang kompleks baik dari segi desain, perhitungan arus, tegangan dan hambatannya. 
Selain itu, rangkaian ini juga memudahkan dalam menganalisa apabila terjadi kesalahan dalam rangkaian nya.

Karakteristik rangkaian listrik campuran.

- Kombinasi antara rangkaian seri dan paralel
- Sifat nya berlaku pada rangkaian seri dan paralel
- Rangkaian nya sederhana
- memiliki ciri yang sama seperti rangkaian seri dan paralel

Perhitungan yang berlaku.


Rangkaian listrik campuran
Seri dan paralel

Dari gambar rangkaian di atas, dapat dituliskan perhitungan hambatan secara matematis :

Rangkaian seri :
R1 + Rp (pengganti) = .... Rs (total seri)

Rangkaian paralel :
1/Rp = 1/R2 + 1/R3 = .... Rp (total paralel)

Rangkaian total :
Rt = Rs + Rp

Menghitung nilai arus :

Arus pada rangkaian seri :
Is = I1 = Ip
Dalam rangkaian seri, arus yang masuk sama dengan arus yang keluar

Arus pada rangkaian paralel :
Ip = I2 + I3 = ... Ip

Total arus pada rangkaian campuran :
Is + Ip = It







Hukum Kirchhoff 1

Sejarah hukum Kirchhoff 



Gusta Robert Kirchhoff lahir pada 12 maret 1824 di konigsberg, Prusia Timur (Sekarang Kaliningrad Rusia). Pada tahun 1845 dia menciptakan 3 konsep berbeda yang dinamai Hukum Kirchhoff yang masing - masing teori tersebut dinamai teori rangkaian listrik, termodinamika dan spektroskopi. 

Pengertian Hukum Kirchhoff 1.

Hukum kirchhoff adalah dua persamaan yang berhubungan dengan arus dan beda potensial atau tegangan. pada hukum kirchhoff 1, hukum tersebut berkaitan dengan arah arus dalam titik percabangan. Hukum ini sering juga dikenal dengan hukum arus Kirchhoff atau Kirchhoff's Current Law (KCL)

Bunyi hukum Kirchhoff 1, yaitu : 

“Arus Total yang masuk melalui suatu titik percabangan dalam suatu rangkaian listrik sama dengan arus total yang keluar dari titik percabangan tersebut.”





Rangkaian Arah Arus dalam percabangan

Berdasarkan gambar diatas, dapat dirumuskan secara matematis :

I1 + I2 + I3 = I4 + I5 + I6



Contoh kasus hukum Kirchhoff 1 :



Perhatikan gambar di atas, pada titik P dari sebuah rangkaian listrik ada 4 cabang, 2 cabang masuk dan 2 cabang keluar. Jika diketahui besarnya I1 = 4 A, I2 = 2 A, dan I3 = 8 A, tentukan berapa besar nilai dari I4?


Jawab :

Diketahui
I1 = 4 A
I2 = 2 A
I3 = 8 A
Ditanya I4 = …?
Hukum Kirchoff I
ΣImasuk = ΣIkeluar
I1 + I2 = I3 + I4
4 + 2 = 8 + I4
6 = 8 + I4
I4 = 6-8 = -2 A
Jadi, nilai arus pada I4 adalah sebesar - 2 A

Rangkaian listrik

Pengertian rangkaian listrik.


Rangkaian listrik adalah sususan elemen - elemen listrik pasif yang membentuk suatu sistem rangkaian yang saling terhubung. Elemen - elemen listrik pasif dapat berupa kapasitor, resistor, induktor, sumber tegangan, sumber arus, switch (saklar), dll. 


Jenis - jenis rangkaian listrik. 

Dalam rangkaian listrik terdapat dua jenis Rangkaian, yaitu rangkaian listrik seri dan rangkaian listrik paralel. 

1. Rangkaian listrik seri.

Rangkaian seri adalah suatu rangkaian yang semua bagiannya dihubungkan secara berurutan sehingga setiap bagian rangkaian yang dialiri oleh arus listrik yang nilainya sama. 
bentuk rangkaian seri ini sangat sederhana karena rangkaiannya disusun secara lurus dan tidak memiliki cabang. 

Karakteristik rangkaian :

- Rangkaian disusun secara praktis dan sederhana
- semua komponen disusun secara sejajar ( berderet atau berurutan )
- hanya ada satu jalan yang bisa dilalui oleh arus listrik, jika rangkaiannya terputus maka arus listrik tidak dapat mengalir sehingga rangkaian tidak dapat berfungsi dengan benar
- arus listrik yang mengalir pada titik rangkaian sama besarnya
- tegangan pada setiap komponen pada rangkaian memiliki nilai yang berbeda
- hambatan total lebih besar daripada hambatan penyusunnya

Gambar rangkaian seri

Berdasarkan gambar diatas maka didapat persamaan matematis :


- untuk mencari nilai arus dapat dinyatakan :
  I = I1 = I2 = I3 .... In

- untuk mencari nilai tegangan dapat dinyatakan :
 V = V1 + V2 + V3 .... Vn

- untuk mencari nilai hambatan dapat dinyatakan :
R = R1 + R2 + R3 ... Rn


2. Rangkaian listrik Paralel.

Rangkaian listrik paralel merupakan sebuah rangkaian yang semua komponen - komponenya dihubungkan secara bersusun (berjajar ). Akibatnya, terjadi percabangan pada sumber arus listrik yang mengalir pada rangkaian. 

Karakteristik rangkaian :

- cara penyusunan rangkaian cenderung lebih rumit
- semua komponen terpasang secara bersusun atau berjajar 
- memilik percabangan pada rangkaian
- arus yang melewati rangkaian memiliki banyak jalan 
- arus yang mengalir pada rangkaian memilik besaran nilai yang berbeda
- komponen yang terpasang pada rangkaian memiliki nilai arus yang berbeda
- tegangan sama besar nilai nya pada setiap komponen yang terpasang
- hambatan total lebih kecil daripada hambatan penyusunnya

Gambar rangkaian paralel

Berdasarkan gambar diatas maka didapat persamaan matematis :


- untuk mencari nilai arus dapat dinyatakan :
  I = I+ I2 + I3 .... In

- untuk mencari nilai tegangan dapat dinyatakan :
 V = V1 = V2 = V3 .... Vn

untuk mencari nilai hambatan dapat dinyatakan :
1/R=   1/R1 + 1/R2 + 1/R3 + ... 1/(R n)





Hukum Ohm

Sejarah Hukum Ohm


Di dalam mempelajari ilmu tentang kelistrikan dan elektronika tentu saja kita terlebih dahulu harus mempelajari hukum dasarnya, yaitu hukum ohm.

Hukum Ohm diperkenalkan dan sekaligus ditemukan oleh seorang fisikawan berasal dari Jerman bernama Georg Simon Ohm di tahun 1825.

hukum ohm menjadi salah satu pernyataan mengenai besaran arus listrik yang telah mengalir pada salah satu penghantar listrik mempunyai sebuah perbandingan lurus dibandingkan dengan besaran beda potensial yang mungkin bisa terjadi pada arusnya.
Dari pernyataan tersebut di sebuah penghantar akan bisa dikatakan masuk dalam kategori hukum Ohm besar nilai resistansinya tidak selalu bergantung pada besar polaritas dari beda yang mengaturnya.
Dimana dalam hukum ohm tersebut terjadi hubungan kuat antara kuat arus listrik (I) , Tegangan (V) dan hambatan (R) .

Bunyi Hukum Ohm


Besar arus listrik (I) yang mengalir melewati sebuah penghantar atau Konduktor akan berbanding lurus dengan beda  potensial / tegangan (V) yang diterapkan kepadanya dan berbanding terbalik dengan hambatannya (R).

Parameter hubungan hukum Ohm

Secara matematis hukum ohm dapat dituliskan 

V = I.R

Dengan :

V = tegangan listrik pada kedua ujung penghantar (volt / V)
I = Arus listrik pada penghantar (ampere / A)
R = Hambatan listrik yang ada pada penghantar 
 (Resistansi / Ohm Ω 

Dari persamaan di atas, di dapatkan :

Menghitung tegangan pada rangkaian
V = I.R ...... (Volt) V

Menghitung arus listrik pada rangkaian 
I = V / R ..... (Ampere) A

Menghitungan hambatan (resistansi) pada rangkaian 
R = V / I ..... ( Ohm / Resistansi ) Ω

Penerapan hukum Ohm


Dalam penerapan Hukum Ohm terdapat hubungan yang erat antara arus listrik, hambatan dan tegangan listrik. 
Jika hambatan listrik tetap maka arus yang terjadi didalam setiap rangkaian akan memiliki perbandingan langsung bersama dengan tegangan. Jika tegangan bertambah maka juga akan mempengaruhi arus yang kemudian juga akan mengalami pertambahan. Dan pada saat tegangan berkurang akan berdampak juga pada arus yang juga berkurang.
Jika tegangan yang terjadi pada rangkaian tetap, maka arus yang terjadi di dalam rangkaian juga akan menjadi berbanding terbalik pada rangkaian tersebut. Saat hambatan bertambah maka akan mempengaruhi arus menjadi lebih berkurang. Jika beban berkurang dapat dipastikan jika arus akan bertambah.
Berikut contoh kasus :
- pada alat elektronik biasanya tertulis keterangan 220 V / 2 A. Hal ini menandakan bahwa peralatan tersebut dapat bekerja secara optimal hanya jika sumber tegangan yang masuk ke dalam peralatan tersebut 220 V dan kuat arus yang mengalir pada peralatan 2 A.

Sifat elemen hukum ohm.

1. Hambatan ( Resistansi )

Hambatan dapat diartikan sebagai rintangan yang terjadi pada sebuah bahan yang terdapat aliran arus listrik. Dari adanya hambatan yang terjadi pada sebuah arus listrik maka gerak elektron akan semakin berkurang. Sehingga hal tersebut akan membuat arus menjadi tidak stabil.
2. Arus 
Sifat dasar arus listrik adalah banyak nya muatan listrik yang disebabkan dari pergerakan elektron - elektron, mengalir melalui rangkaian tiap satuan waktu. Secara matematis dapat dituliskan :
I = Q / t
Dimana :
I = arus listrik (Ampere / A)
Q = muatan listrik (Coulomb / C )
t = waktu ( sekon / s)
3. Tegangan.
merupakan potensial sebuah listrik yang berada di antara dua titik pada sebuah rangkaian yang dinyatakan dengan satuan volt.






Besaran listrik

Pengertian dan besaran satuan listrik.



1. Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur atau dihitung, dinyatakan dengan Angka atau nilai dan  setiap besaran pasti memiliki satuan. Contoh besaran dalam Ilmu kelistrikan dan Elektronika seperti Tegangan, Arus listrik, Hambatan, Frekuensi dan Daya Listrik.


2. satuan adalah acuan yang digunakan untuk memastikan kebenaran pengukuran  atau sebagai pembanding dalam suatu pengukuran besaran. Satuan ini dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Unit. Contoh-contoh satuan dalam ilmu kelistrikan dan Elektronika seperti Ampere, Volt, Ohm, Joule, Watt.

DEFINISI


1.Tegangan listrik
perbedaan potensial listrik antara dua titik dalam rangkaian listrik, dan dinyatakan dalam satuan volt. Besaran ini mengukur energi potensial dari sebuah medan listrik yang mengakibatkan adanya aliran listrik dalam sebuah konduktor listrik. 
Tergantung pada perbedaan potensial listriknya, suatu tegangan listrik dapat dikatakan sebagai ekstra rendah, rendah, tinggi atau ekstra tinggi. Tegangan listrik memiliki satuan volt (V).
2.Arus listrik
mengalir pada suatu penghantar listrik (konduktor), arus terjadi apabila dua kutub yang bermuatan listrik berbeda pada suatu sumber listrik dihubungkan menggunakan suatu bahan konduktor. Arus listrik terjadi akibat beda potensial (tegangan listrik) antara kedua kutub dengan muatan listrik yang berbeda. 
Aliran listrik yang arahnya tetap disebut aliran listrik searah (DC = Direct Current) dan yang tidak tetap sering disebut aliran listrik bolak-balik (AC = Alternating Current).
3.Hambatan Listrik
Bila diantara dua kutub muatan listrik yang berbeda (positif dan negatif) kita hubungkan dengan sebuah penghantar (konduktor) maka arus listrik akan mengalir lewat penghantar tersbut. Arus listrik tersebut akan mendapatkan hambatan atau tahanan / Resistance (R) didalam penghantar. Resistansi atau hambatan listrik pada suatu konduktor atau benda listrik diukur dalam satuan Ohm. 
4.Daya Listrik
Daya Listrik atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Electrical Power adalah jumlah energi yang diserap atau dihasilkan dalam sebuah sirkuit/rangkaian. Sumber Energi seperti Tegangan listrik akan menghasilkan daya listrik sedangkan beban yang terhubung dengannya akan menyerap daya listrik tersebut. 
Berdasarkan definisi tersebut, perumusan daya listrik adalah seperti dibawah ini :
P = E / t
Dimana :
P = Daya Listrik
E = Energi dengan satuan Joule
t = waktu dengan satuan detik

5.KONDUKTANSI
EC (Electrical Conductivity) atau konduktansi adalah ukuran kemampuan suatu bahan untuk menghantarkan arus listrik. Konduktansi (G) merupakan kebalikan (invers) dari resistansi (R). Sehingga persamaan matematisnya adalah :
G = 1 / R
Note : Pada literatur lainnya, simbol untuk konduktansi adalah σ, γ atau κ.
6.Kapasitansi
kapasitans adalah ukuran jumlah muatan listrik yang disimpan (atau dipisahkan) untuk sebuah potensial listrik yang telah ditentukan. Bentuk paling umum dari peranti penyimpanan muatan adalah sebuah kapasitor dua lempeng/pelat/keping. Jika muatan di lempeng/pelat/keping adalah +Q dan –Q, dan V adalah tegangan listrik antar lempeng/pelat/keping,
dengan
C = kapasitas kapasitor (farad)
Q = muatan listrik yang disimpan (coulomb)
V = beda potensial kedua ujungnya (volt)

7.Muatan listrik
adalah muatan dasar yang dimiliki suatu benda, yang membuatnya mengalami gaya pada benda lain yang berdekatan dan juga memiliki muatan listrik. Simbol Q sering digunakan untuk menggambarkan muatan. Sistem Satuan Internasional dari satuan Q adalah coulomb, yang merupakan 6.24 x 1018 muatan dasar. Q adalah sifat dasar yang dimiliki oleh materi baik itu berupa proton (muatan positif) maupun elektron (muatan negatif).
8.Induktansi
adalah sifat dari rangkaian elektronika yang menyebabkan timbulnya potensial listrik secara proporsional terhadap arus yang mengalir pada rangkaian tersebut, sifat ini disebut sebagai induktansi sendiri, sedangkan apabila potensial listrik dalam suatu rangkaian ditimbulkan oleh perubahan arus dari rangkaian lain disebut sebagai induktansi bersama.
Keterangan :
L       =       induktansi diri
I        =       kuat arus
t        =       waktu
9.Energi
adalah properti fisika dari suatu objek, dapat berpindah melalui interaksi fundamental, yang dapat diubah bentuknya namun tak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Joule adalah satuan SI untuk energi, diambil dari jumlah yang diberikan pada suatu objek (melalui kerja mekanik) dengan memindahkannya sejauh 1 meter dengan gaya 1 newton.
10.Frekuensi
Dalam ilmu Fisika, Pengertian Frekuensi adalah jumlah getaran yang dihasilkan dalam setiap 1 detik. Sedangkan dalam ilmu elektronika, Frekuensi dapat diartikan sebagai jumlah gelombang listrik yang dihasilkan tiap detik. Frekuensi biasanya dilambangkan dengan huruf “f” dengan satuannya adalah Hertz atau disingkat dengan Hz. Jadi pada dasarnya 1 Hertz adalah sama dengan satu getaran atau satu gelombang listrik dalam satu detik (1 Hertz = 1 gelombang per detik). Istilah Hertz ini diambil dari nama seorang fisikawan Jerman yaitu Heinrich Rudolf Hertz yang memiliki kontribusi dalam bidang elektromagnetisme.

f = 1/T
Dimana :
f = Frekuensi dalam satuan Hertz (Hz)
T = Periode dalam satuan detik (sec)